Friday, September 11, 2026

Titik Terendah Seseorang

Halo guys, aku mau ngeshare tentang apa yang terjadi bulan lalu (Agustus 2026). Ketika aku lagi berada di luar kota (Jogjakarta), aku kaget pas malem2 ayahku telepon. Dan memang benar dugaanku ternyata ada hal buruk yang terjadi, iya, ibuku wafat. Jumat malam, mungkin sekitar 12:32 AM kabar itu bikin berasa di sambar petir di malam hari. Ga siap, tubuhku gemetaran. Berasa ga percaya hal ini terjadi. Lalu aku kasih tau suamiku, dan kami langsung siap2 pulang ke Bandung, tapi sayangnya kereta siap jam11 siang.

Pagi di hari itu berasa sangatlah aneh. Aku masih ngerasain kalau, apakah ini nyata? Apakah ini mimpi? Kalau ini mimpi rasanya pengen cepet2 bangun lagi. Kami pun menunggu kereta menuju Bandung di stasiun Jogjakarta. Airmataku pecah ketika ngeliat ada kumpulan ibu2 berhijab yang lagi sibuk selfie dan ngobrol2.. Teringat sama almarhum ibuku..

Sepanjang perjalanan menuju Bandung, aku pun masih berusaha untuk tenang dan bergelut dengan denial "kenapa ini harus terjadi?". Tanaman yang sebelum kami berangkat terlihat hijau, namun sekarang terlihat mulai menguning hampir oranye. Aku menyadari dan meresapi peribahasa "setiap insan yang hidup, suatu saat pasti gugur". Begitupula dengan orang2..dengan tumbuhan, pohon dan juga ibuku. 
Aku berusaha menelepon beberapa saudara dan teman, mengharap emotional support dari mereka. Berbicara dengan selega2nya. 

Aku sempat posting di whatsapp status, mengatakan tentang kabar wafatnya ibuku. Hanya 1-2 teman yang mengucapkan dukacita, hal ini sempat menghantam mentalku. Sakithati dan dendamku mengatakan, untuk apa punya kontak teman, status whatsapp-ku mereka baca tapi sama sekali ga ngasih ucapan? Delete aja. Ga penting juga. Aku jadi malas sama orang2 seperti itu, lelah di ignore oranglain. Meskipun aku tau, semenjak kecil aku udah biasa di ignore oranglain. Lalu aku mulai menghapus satu persatu kontak mereka. Ga guna.

Ketika kami udah sampai ke rumah ortuku, udah memasuki waktu malam. Dan tentunya tubuh beliau udah di kebumikan. Hatiku kacau ga karuan, berusaha untuk tegar di depan ayahku yang keliatan sok tegar. Tapi aku harus tegar, ga pengen ngeliat ayah tambah2 hancur hatinya. Dari situ kami ngasih beberapa ratus ribu, karena ayah statusnya kan pensiunan. Dan uang yang masuk ke dompetnya juga ga seberapa. Jadi setidaknya nambah2 uang sedikit2 (walaupun kami berdua untuk sementara ini ga punya pendapatan).

Mungkin air mataku udah dikit demi sedikit kering, karena di habiskan sebelumnya, sebelum beliau wafat (waktu masih sakit). Dan meskipun keluar airmata, airmata itu mungkin ga sebanyak pas awal2. Apa karena aku udah sedikit demi sedikit merelakan? Kalaupun masih hidup, mungkin ibu bakal tambah2 kesakitan. Tapi yang pasti sekarang beliau udah ga kesakitan lagi, udah ga ada beban lagi di pundak maupun di hatinya.

Bukan itu..
Satu hal yang aku masih ingat2, kenapa aku belum pernah dapat Cinta Eksklusif dari beliau? Aku bukan mau ngeluh tentang hal ini. Aku cuma menyayangkan, aku sebagai anak yang ga pernah di ingat dan selalu di sudutkan oleh keluarga utama.
Oke aku cerita sedikit.. (banyak padahal)
Semenjak anak bungsu lahir, posisi aku di dalam keluarga makin terdesak. Aku bukan lagi menjadi anak yang di perhatikan oleh orangtua, khususnya ibu. Segala cinta, perhatian, tertuju pada kakak dan adikku. Hal ini yang membentuk karakterku menjadi karakter pembangkang, rebel dan bandel. Kita semua tahu, posisi anak tengah itu seperti apa. Maju kena, mundur kena. Akhirnya, aku mengalah.

Mengalah untuk menang.

Aku terbentuk seperti ini, mengemis perhatian dengan cara rebel. Dengan cara jadi pemberontak. Aku hanya ingin orangtuaku melihatku. Meskipun akhirnya terlihat jadi negatif. Aku pernah waktu itu menangis, mengemis perhatian, memohon cinta, dan apa yang mereka katakan? "Cinta kami sama, ga pernah ngebeda2in, sama rata."
Tapi kenyataannya ga semanis apa yang di ucapkan.

Aku dan kakak-ku sering berkelahi, bukan hanya berkelahi berdebat tapi juga adu fisik. Sejak kami remaja. Dan yang memisahkan? Orangtua kami lagi. Kakak ku ini sering memfitnahku dengan mengatakan kalau aku tendang dan pukul ibu. Padahal kenyataannya sumpah demi Allah, aku tidak pernah melakukannya dengan sengaja. Aku ga bakal pernah melupakan dan memaafkan hal ini sampai kapanpun. Aku kalau udah di fitnah, aku ga bakal maafin siapapun itu.
Dan lucunya lagi, suaminya ini keliatan takut banget sama dia (Suami Takut Istri). Jadi, setiap perbuatan dia, semua di kontrol oleh si Dajjal ini. Maaf kalau aku lancang bilang Dajjal, karena memang kelakuannya ini sama persis seperti Dajjal. Munafik dan hobinya fitnah.
Dia bahkan berani fitnah aku di depan ketua RT dan banyak orang2. Posting segala sesuatunya di Whatsapp status (untung aja udah aku block nomernya dia)

Ada lagi, pas ibuku masih sakit, dia ga ngizinin anggota keluarga dan tetangga buat datang ngejenguk ke rumah. Bahkan dia berani ngebentak2 dan ngusir kakak ibuku (ayah aku aja dia bentak2 dan dia bilang TULI, karena pendengarannya kurang baik). Aku sempat dapat info dari tetangga sekitar, mereka bilang setiap hari mereka ngedenger di rumah ortu, kalau kakak Dajjal ini bentak2 ortu.
Jadi dia ini dendam sama keluarga dari pihak almarhum ibuku karena masalah waris dulunya dan ada juga dia berantem di fesbuk sama sepupuku (anak dari kakak ibuku).
Dulu waktu kumpul pembagian warisan nenekku, pihak ibuku pengen pembagian di samaratain. Padahal kalau sesuai hukum Islam kan udah jelas, untuk cowok 2, untuk cewek 1. Nah pada berantem lah disitu (aku waktu itu lagi di sekolah). 
Ibuku ini suka cerita2 gitu tentang sakit hatinya dia semenjak dia remaja ke si kakak dajjal ini. Nah disini dia memupuk rasa dendam kali ya. Maksudku, itu kan urusan beliau sama sodara2nya, kok dia ikut2an. Lagian kan ini udah lama banget kejadiannya.

Oke kita skip ya, karena banyak banget hal yang muncul dari si kakak dajjal ini. Segala drama dan intrik2 dia. Kita beralih ke si adik dajjal.

Jadi waktu dulu kita deket banget, dia sering cerita tentang mantan cowoknya dia ke aku. Pokoknya curhat2 segala2nya. Dan tibalah ketika dia di masukin kerja sama sepupu ke perusahaannya, which is gajinya UMR di atas 4 juta. Semenjak itu, sombongnya udah ngelebihin milyuner vrindapan. Pernah aku minta tolong ke dia buat beliin pembalut ke warung karena aku lagi sakit banget perut dan ga bisa keluar. Dia jawab : Emang Aing Pembantu Sia? (Ini ga bakal pernah aku lupain selamanya) Semenjak saat itu aku ga pernah lagi minta tolong bantuan dia. Dan aku ga bilang2 dia pernah bilang gitu ke aku, ke ortu. Karena meskipun ortu tau, mereka bakal bilang, udah ngalah aja.... Padahal kami udah sama2 dewasa. Oh ya, mungkin karena mereka masih menganggap si adik dajjal ini masih kecil kali ya, padahal usia dia udah lebih dari 25 tahun (yakali masa kaya gitu ngomong sama kakak?)
Anyway, fyi, aku ga pernah di panggil 'kakak' sama dia yaaaa.....
Mungkin ada 2-3 bulanan abis itu, almarhum ibu aku mengatakan hal yang serupa kaya yang dia katakan ke aku sebelumnya. Apakah ini kebetulan?? Mungkin sifat mereka sama. Tapi masa sih 100% kalimatnya sama pas aku minta tolong beliin pembalut.
Semenjak saat itu, aku ngerasa kalau di rumah ortu ada sesuatu yang ga beres. Tau kan?

Ditambah pas pertama kali pas masih pacaran, suami aku kan datang ke rumah. Eh dia dengan gatelnya manggil nama tanpa titel, terus salam dan ngajakin ngobrol padahal aku waktu itu ada di sebelah suami aku (intinya di lewat, ga disapa) terus dia bilang ke suami aku kalau suami aku itu mempesona pas di foto (karena dia pake topi pemberian ayah aku kan). Aku aja belum pernah sama sekali muji atau ngajak2 ngobrol pacar/suami mereka. Najis ya. Ga semurah itu aku orangnya.

Adalagi, setiap kali teman2 aku datang ke rumah, temen deket ya, cewek. Ibu pasti ngomongin anak2nya yang lain ke mereka, tentang pencapaian dan juga lain sebagainya, bukan aku. Makanya, mereka sering bertanya2 aku ini benar anak kandung apa bukan?

Oke kita loncat2 ya. Nah aku kan pernah deal2an sama ortuku dulu tentang pernikahan. Jauh waktu pas aku dulu masih kuliah, aku pernah bilang gini, kalau suatu saat aku nikah, aku pengen nikah sesederhana mungkin dan ortu taunya beres ga usah cape2. Mereka udah nge-oke-in.
Dan.....
Ga taunya, mereka ingkar janji guys....Ketika hari itu tiba... Pengen meriah, di gedung dll. Karena di pengaruhi sama si kakak Dajjal. Akhirnya kami berdua ngalah.. dan pernikahan di kontrol sama si kakak dajjal dengan dresscode yang aneh untuk keluarga. Merah. Tamu2 bilang, kaya barongsai, memalukan... Untung aja baju kami berdua biru emang sesuai dengan plan. Jadi guys, aku punya temen sekolah dulu dan dia itu EO, jadi dia yang ngurus. Semua biaya pernikahan, suami aku yang bayar2in. Nah pihak keluarga ga mau nyumbang, tapi pengen nguasain. Terutama si kakak dajjal ini. Jadi baju yang kami urus itu baju bridesmaid, groomsmen sama ortu aja. Baju keluarga ga ada.
Pas hari H (karena kami bertiga yang ngurus ini itu segala macem), kami sakit. Jadi ya waktu itu ruang ganti pengantin cuma ada aku suami sama ibu mertua, karena kami sakit dan juga masih ada rasa sakit hati ke ortu dan kakak. Di tambah kalau mereka masuk ke ruang ganti, yang ada nanti di recokin. Aku kan ga mau acara rusak gara2 itu.

Kita loncat lagi, waktu ibuku lagi sekarat dan untuk ngomongpun ga jelas. Si Kakak dajjal ini nge FRAMING dengan cara ngevideoin ibu, sampai ibu bilang gini: ibu benci banget dan mau putusin silahturahmi sama keluarga besar, dan juga ng FRAMING dengan bikin ibu bilang kalau aku itu mau bunuh ibu dan ibu ketakutan.

Anyway, ibuku kena kanker paru dan otak udah 5 tahun dan baru disadari baru2 ini. Kankernya kanker ganas.
Dugaanku kenapa ini bisa jadi ganas, karena sakit pikiran. Dajjal2 ini terus ngebisikin lewat waswas-nya ke ibu. Jadi stress kan di rumah. Jadi di rumah ortu ini, si kakak dajjal numpang hidup padahal dia udah punya rumah sendiri. Tapi masih numpang hidup.
Pernah aku bilang ke ortu jauh sebelum aku nikah dan kenal sama suami, supaya ngusir si dajjal ini karena satu atap dua keluarga itu ga baik. Dan bener ternyata... Para penghancur.